Senin, 21 Juli 2014

Helen

Aku masih tertidur lelap saat malam natal tiba,hari itu sangat dingin,hujan turun terus menerus membuat aku enggan beranjak ke manapun.Seharusnya aku ada di gereja malam itu,namun tubuhku yang pemalas ini memaksakan kehendakku untuk melanjutkan mimpi di ranjangku yang empuk.Mungkin besok pagi waktu yang tepat untuk merayakan natal,pikirku,terlebih aku hanya sendiri di sini.
Sesaat aku terbangun saat hendak mengambil air minum,handphoneku berdering.Lagu 'Jason Gray' membahana di kamar kos ku,seakan menyuruhku untuk segera menerima panggilan itu.Aku segera mengambil handphoneku dan melihat nama Helen di layar hp ku.
"Ya Helen,ada apa?"
"Aku ingin ke kos mu sekarang"
"Tapi sekarang hujan..."
"Masalahku lebih besar dari hujan ini,aku akan melewatinya,aku butuh engkau ta..."
"Oke..hati-hati"
Helen mengakhiri panggilan,dan aku kembali berbaring.Sampai 20 menut kemudian,seseorang mengetuk pintu,dan aku segera mengetahui itu Helen.
"Hai..ta,akhirnya aku tiba di sini",dengan suara serak dia menyapa.
"Len.lu kenapa,suara lu,muka lu,mata lu,sebesar apa sih masalah lu sampe lu keliatan seperti ini",aku masih tak percaya dengan yang kulihat,Helen yang begitu cantik dan kalem,namun malam ini aku melihatnya sangat tak percaya,dia kelihatan sangat menderita.
"Boleh gw masuk ta?"
"Oh..okay",aku menjawab dengan nada yang masih tak percaya dengan kehadirannya.
Malam itu aku masih mendegar suara hujan membahana melewati atap rumah kos ku,angin ikut menyapu dan terdengar lebih keras lagi saat Helen menangis.
"Ta,gw hancur,gw pengen bunuh diri kalo itu memang itu tidak dilarang..."
"Lah,lu ngomong apa?"
"Ta,gw belum pernah cerita tentang hidup gw ke loe,hidup hw begitu hancur ta,dan itu membuat gw sangat menderita saat ini."
Aku hanya terdiam dan memperhatikan matanya yang lembut biasanya kini aku melihat mata itu begitu sayu dan seolah lenyap karena air mata yang berlebihan turun tanpa henti dari matanya.
"Ta,gw pengen buka cerita gw,tapi gw ga mau ada yang tahu tentang cerita ini,dan terserah loe mau judge gw seperti apa,dan itu alasan gw kenapa gw menyembunyikan cerita ini selama ini,gw takut di judge orang-orang,meski sebenarnya itu tidak berpengaruh ya seharusnya,tapi gw begitu takut sekarang ta,hati gew sangat hancur,kenapa gw ga bisa dapetin apa yang gw mau?"
"Apapun masa lalu loe,yang gw tai loe tetap sahabat gw len,kalo loe takut,gw akan coba protect loe dengan cara gw,jangan berkecil hati"
"Makasih ta,gw akan cerita dari awal kehidupan gw yang sebenarnya,dan jujur gw ga pernah cerita ma sapapun termasuk orang tua gw.help me to keep this secret."
"I do",jawabku singkat sambil memberikan tissue kepadanya.
Helen tetap  menangis,tanpa henti dia tetap menangis,sebelum dia mulai bercerita.
"Helen sayang,selamat ulang tahun,selamat hari natal",kataku ketika aku memperhatikan jam sudah berdentang dua belas kali.
Helen makin ga karuan menangis,dia mulai membelakangiku dan tanpa kuduga,dia mulai menghantamkan kepalanya ke dinding.
"Helen,jangan bertindak bodoh",kataku menarik tangannya dan mencoba membuat dia tenang.
Aku segera memeluk dia,"Len,apa yang membuatmu begini,Len,kalo memang masih belum siap untuk bercerita jangan dipaksakan,tidurlah sekarang,jangan lakukan hal seperti itu lagi.Len.tenanglah,aku ada saat ini."
Helen akhirnya menurut dengan sesenggukan dan air mata yang tak pernah berhenti dia menggangguk dan beranjak ke arah kasurku.
Malam itu aku tidak bisa tertidur,aku hanya memperhatikan Helen tidur dengan air mata yang masih mengalir,aku masih membayangkan kehadiran dia tadi.
Sepengetahuanku,Helen adalah gadis yang kuat,dia memiliki hidup yang sangat berantakan,tapi aku tahu dia sanggup,karena yang aku lihat selama ini hanyalah senyuman dan senyuman lebar yang ada di hidupnya.Dia yang selama ini membantu aku menghapus air mataku,membantu aku untuk bangkit dan bersinar kembali hingga semua orang terpana melihat aku.

       ------------------¤¤¤¤¤◇◇◇¤¤¤¤¤--------------------

Helen lahir di hari natal pagi hari,hingga doker yang membantu persalinannya tidak bisa merayakan natal bersama keluarganya di pagi hari.Saat dia lahir bersama di tanggal yang sama dengan Yesus lahir,dia tak pernah tahu apa yang terjadi selanjutnya tentang hidupnya apakah sama dengan Yesus atau bahkan sebaliknya.Dia lahir pagi hari dimana semua orang masih terlelap,sama dengan Yesus saat dilahirkan saat semua orang terlelap,seprti kebanyakan lagu natal didendangkan.
Saat mamanya akan melahirkan,kedua kakeknya sedang bertengkar untuk memberi perhatian lebih kepada mamanya.Tidak demikian dengan neneknya,yang tidak suka dengan mamanya,dia tidak hadir menemani mamanya akan bersalin.Namun,saat Helen lahir,dan mamanya pulang dari rumah sakit,keadaan berubah,Neneknya mulai mengambil Helen untul dipeluk dan mulai menyapa indah mamanya.Hingga kakeknya merasa Helen hadir sebagai tanda perdamaian mama Helen dan neneknya.
Tidak selesai dari malam itu,Kakek Helen begitu membuat Helen seolah hadiah berharga baginya.Terkadang Ia membawa Helen kecil tidur bersamanya,sehingga mama Helen terkadang merasa kehilangan Helen.Sampai Kakek Helen meninggal,Helen masih berusia balita,dan tidak tahu apapun.Kakek Helen begitu mengasihi Helen sampai penghujung usianya,Kakek Helen membelikan baju ukuran besar untuk Helen,seolah mengetahui bahwa tidak akan bertemu dengan Helen di usia dewasa.
Helen semakin bertumbuh,di usia 10 tahun,terjadi kejadian yang merubah awal hidupnya.Kedua orang tuanya bertengkar,sampai seluruh keluarganya ikut campur.Tapi Helen dan adiknya tidak mengetahui apapun.Helen bahkan sempat melihat mamanya hampir meminum racun serangga.Namun,masalah demi masalah belum selesai juga antara kedua orang tuanya.Pertengkaran itu membuat mama Helen beranjak dari rumah.Saat mama Helen berangkat dari rumah,keluarga dari pihak Bapak Helen,memanggil kembali mama Helen untuk kembali.Mama Helen kembali,namun tidak sampai berapa lama kemudian,terjadi kembali hal yang sama,Mama Helen kembali meninggalkan keluarga.Dan tidak ada pergerakan lagi dari pihak keluarga,sehingga mama Helen dibiarkan berlalu dari kehidupan keluarga Helen.Helen hidup dalam kekurangan kasih sayang,sebagai anak perempuan,ia tak mengerti apapun yang seharusnya dilakukan perempuan,sebelum tersadar bahwa ia adalah anak perempuan.sampai setiap temannya datang ke rumah,sebelum tersadar bahwa ia adalah anak perempuan,ia tidak mengetahui rasa malu,sampai ia terus beranjak dewasa,ia mulai mengerti dan merasa malu akan hal itu.Bisa ditebak,banyak orang mencela akan Helen yang tak bisa mngurus keluarganya,maksudnya bapak dan adiknya.Helen selalu ada di pojok kesalahan.Hingga Helen menutup dirinya dari orang banyak.Helen selalu merasa saat melihat setiap orang,ia selalu merasa tatapan baginya hanyalah tatapan cela.Helen selalu merasa dirinya begitu memalukan.
-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-**-*-*-*--**-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-**-*--*-

Aku memandangi wajah helen sampai akhirnya aku tertidur.Keesokan paginya aku terbangun,aku mendapati Helen sedang menonton televisi sambil menyeduh kopi.
"Pagi,Helen..."sahutku dengan nada serak aku menyapanya,dan aku melanjutkan berbaring.
"Pagi,ta..,mau gw buatin kopi juga?"jawab helen mencoba membangunkanku.
"Helen no need,gw mau langsung mandi,ntar aja gw buat sendiri,"kataku sambil babgkit dari tempat tidur.
"Ta lu kuliah hari ini?wishful you are here fullday for me,won't you?"kata-kata helen terdengar hingga kamar mandi,namun aku tidak menyahut,aku melaniutkan menyanyi seolah pertanyaannya tidak terdengar olehku.
Hari ini kan hari libur mengapa helen menanyakan aku harus kuliah atau tidak,tanyaku dalam hati,Helen lucu,pikirku.
Hari ini hari natala,malam natal kemarin aku tidak ke gereja,aku rasa aku harus mengajak Helen ke gereja bersamaku.
"Helen,i will be there by your side full day...tenang aja...tapi kita ke gereja dulu ya,and habis itu terserah deh lu mau ajak gw kmana,fine kah?"tanyaku padanya.
Helen berbalik menatapku dengan tatapan kosong,dan dia tersenyum menggangguk,"ok"jawabnya singkat.
Entah mengapa ada sesuatu yang aneh saat aku melihat tatapannya tadi,tapi semoga bukan sesuatu yang aneh pikirku.
Siang hari kami pergi ke gereja,di perjalanan Helen hanya terdiam,aku juga sedang malas untuk mengganggu suasana hatinya yang aku rasa begitu buruk.
Sewaktu ibadah,aku tak sengaja belum menutup mataku saat akan berdoa,aku melihatnya menangis terus menerus air matanya mengalir.Aku pura-pura tak melihat,aku melanjutkan doaku"ya Tuhan,berikan jalan keluar untuk masalah helen,aku menyayanginya aku tahu Engkau juga menyayanginya,karena Dia anakMu."
Selesai ibadah aku melihat tatapan kosong dan hampa dari helen lagi,dengan mata sembabnya lagi ia hanya melihat ke bawah dan terdiam sepanjang perjalanan pulang,sesampai di rumah ia mengucapkan sesuatu.

"Helen,kalo seandainya orang tua kamu berpisah,kamu akan memilih dengan sapa kamu tinggal?"kata saudara ibuku bertanya kepadaku.
Sambil berpikir,aku mengucapkan dengan tegas,"aku tidak memilih siapapun,aku tidak mau mereka terpisah,"kataku sambil memalingkan muka dari hadapannya.
Pernahkah terpikir suatu keinginan agar kedua orang tuamu berpisah?Aku rasa tidak,tidak akan ada yang menginginkannya,termasuk aku dan adikku.Kami adalah korban keegoisan orang tua kami,aku berpikir demikian sewaktu aku kecil sampai aku mengerti

Minggu, 09 Maret 2014

Gadis Kecil

Gadis kecil yang malang,tidur di antara bebatuan malam,
Menangis di antara dinginnya dunia,air mata untuk menghangatkan jiwanya,
Gadis yang tersembunyi di antara jutaan manusia yang hidup berlalu lalang,
Gadis kecil yang malang,hidup dalam kekelaman,
Impian hanyalah ilusi semata,bertahan hidup adalah pilihan terakhir,
Gadis kecil yang mengais-ngais harapan dalam jiwa mengemis-ngemis pada Sang Pencipta,
Menangis di antara dinginnya dunia,airmata untuk menghangatkan jiwanya,
Gadis yang tersembunyi di antara jutaan manusia yang hidup berlalu lalang,
Gadis kecil yang malang,hidup dalam kekelaman,
Impian hanyalah ilusi semata,bertahan hidup adalah pilihan terakhir,
Gadis kecil yang mengais-ngais harapan dalam jiwa mengemis-ngemis pada Sang Pencipta,
Menangis di antara dinginnya dunia,airmata untuk menghangatkan jiwanya,
Gadis yang tersembunyi di antara jutaan manusia yang hidup berlalu lalang,
Gadis kecil yang malang,hidup dalam kekelaman,
Impian hanyalah ilusi semata,bertahan hidup adalah pilihan terakhir,
Gadis kecil yang mengais-ngais harapan dalam jiwa mengemis-ngemis pada Sang Pencipta,
Jikalau berbalik tangisan itu akan menemani,
Jikalau menunduk tangisan itu juga akan menemani,
Jikalau berdiri menatap dunia,tangisan itu datang menemani,
Bukankah lebih baik untuk berbaring dan menutup mata agar ia meninggalkan,meski ia adalah teman terbaik,
Sejenak tangan lembut itu membelai rambut keemasan si gadis kecil,
Tangan itu tak berhenti membelai dan membelai,
Nyanyian indah  pun diperdendangkan,
Si gadis kecil telah dipinjamkan pangkuannya untuk bersandar,
Kata cinta selalu ada di nyanyiannya,hanya itu yg sayup-sayup didengarnya,
Gadis kecil yang beruntung,saat terbangun dari mimpi yang indah,
Tersenyum di balik jutaan alasannya untuk menangis,
Gadis kecil yang beruntung,saat tersadar akan hidup yang sulit,
Menemukan Cinta terbesar saat jutaan orang tidak bisa merasakannya
Dalam dekapan hangat ibunya,gadis kecil itu bergirang hati,
Gadis kecil itu beruntung ia memiliki cinta dari sang ibu.